Jangan Lupakan Kebaikan Orang Lain

Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ, beliau bersabda,

«مَا لِأَحَدٍ عِنْدَنَا يَدٌ إِلَّا وَقَدْ كَافَيْنَاهُ مَا خَلَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا يَدًا ‌يُكَافِئُهُ ‌اللَّهُ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» «سنن الترمذي» (3661)

“Tidak lah seseorang memiliki tangan, kebaikan kepada kami, kecuali telah kami cukupkan, kami membalasnya. Selain Abu Bakar, karena ia memiliki tangan (kebaikan) yang Allah akan cukupkan baginya pada hari Kiamat.”

Mengingat dan mengakui kebaikan orang lain adalah bagian dari akhlak Islam yang mulia. Seorang muslim adalah makhluk sosial, yang satu sama lainnya bergaul, saling berbagi dalam kebaikan, melewati waktu-waktu dengan saling memberi, baik itu materi maupun non materi. 

Islam mengajarkan untuk tidak melupakan kebaikan orang lain yang memberikan kebaikan kepada, walaupun keadaan sudah berubah, mungkin terjadi perselisihan, pertengkaran, antara suami istri yang awalnya penuh dengan keceriaan, namun berakhir dengan peceraian dan perpisahan.

Maka simaklah ayat 237 Surat Al-Baqoroh, yang berbicara tentang talak, di bagian akhirnya Allah ta’ala berfirman,

﴿‌وَلَا ‌تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ﴾ [البقرة: 237]

“Janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kalian, Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan”

Bahwasanya Allah Ta’ala memerintahkan orang yang dipersatukan oleh suatu hubungan yang termasuk di antara hubungan manusia yang paling suci –yakni hubungan pernikahan– agar mereka tidak melupakan pergaulan dan interaksi baik yang pernah terjadi di antara mereka, walaupun akan sangat terpengaruh oleh perceraian dan perpisahan ini.

Ayat ini merupakan salah satu kaidah tentang perilaku (etika) yang menunjukkan keagungan dan komprehensifnya agama Islam dan keagungan prinsip-prinsip pokok yang ada di dalamnya.

Islam mengajarkan kita untuk tidak melupakan orang-orang yang memiliki kebaikan dan keutamaan, pemberian, perjuangan, kesetiaan dan lainnya. Sebisa mungkin untuk membalasnya, walaupun dengan hal yang dianggap kecil. Rasulullah ﷺ bersabada, 

«وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوا بِهِ فَادْعُوا لَهُ ‌حَتَّى ‌تَرَوْا ‌أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ» «سنن أبي داود» (1672)

“dan barang siapa yang berbuat kepada kalian kebaikan maka balaslah, jika tidak mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia, sampai kalian melihat bahwa kalian sudah membalasnya.”

Husnul ahdi (حسن العهد) adalah menjaga silaturaahim dan memlihara hubungan lama, serta tidak melupakan orang yang memiliki kebaikan dan keutamaan kepada kita. Husnul ahdi (حسن العهد) bagian dari iman. Ia adalah sunah Nabi.

Dalam sebuah hadits, Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, seorang nenek tua bernama Ummu Zufar datang menemui nabi ﷺ, dan Nabi sedang bersama Aisyah. Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya: "Bagaimana engkau, bagaimana keadaanmu? Bagaimana keadaanmu setelah jauh dari kami?" Wanita itu menjawab: "Keadaanku baik wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku." Tatkala wanita itu sudah keluar, Aisyah berkata: "Wahai Rasulullah, sampai sedemikian rupa perlakuanmu dan caramu menyambut wanita yang sudah tua itu."

Maka Rasulullah bersabda:

«"إِنَّهَا كَانَتْ تَأْتِينَا زَمَنَ خَدِيجَةَ، وَإِنَّ حُسْنَ الْعَهْدِ مِنَ الْإِيمَانِ"» «شعب الإيمان» (8701)

 "Sesungguhnya ia pernah mendatangi kami sewaktu Khadijah masih hidup. Dan menjaga hubungan baik adalah bagian dari iman."

Kita dinasihati Rasulullah untuk senantiasa (husnul ahdi) menjaga hubungan baik dengan yang memiliki nasab dengan kita, maupun pernikahan, maupun teman lama, apakah itu teman kerja, teman sekolah, dan lain-lain, baik mereka masih hidup maupun sudah meninggal.

Imam Nawawi mengatakan, 

«وَفِي هَذَا كُلُّهُ دَلِيلٌ لِحُسْنِ الْعَهْدِ وَحِفْظِ الْوُدِّ ‌وَرِعَايَةِ ‌حُرْمَةِ ‌الصَّاحِبِ وَالْعَشِيرِ فِي حَيَاتِهِ وَوَفَاتِهِ وَإِكْرَامِ أَهْلِ ذَلِكَ الصَّاحِبِ» «شرح النووي على مسلم» (15/ 202)

“ini mengindikasikan pentingnya menjaga hubungan, keramahan, memelihara kehormatan sahabat dan kerabat baik yang masih hidup maupun sudah meninggal, serta menghormati kebaikan sahabat tersebut”

Di antara cara membalas kebaikan adalah

  • Membalas pemberian tersebut
  • Memuji orang tersebut
  • Mengucapkan Jazakallah khairan kepada orang tersebut
  • Mendoakan orang tersebut

«مَنْ أُتِيَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَلْيُكَافِئْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ، فَلْيَذْكُرْهُ، فَمَنْ ذَكَرَهُ، فَقَدْ شَكَرَهُ» «مسند أحمد» (24593)

Barangsiapa yang diberikan kepadanya sebuah kebaikan, hendaklah ia membalasnya dan barangsiapa yang tidak sanggup maka sebutlah (kebaikan)nya, dan barangsiapa yang menyebut (kebaikan)nya, maka sungguh ia telah bersyukur kepadanya

«مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ ‌أَبْلَغَ ‌فِي ‌الثَّنَاءِ» «سنن الترمذي» (2035)

“Barangsiapa yang dibuatkan kepadanya kebaikan, lalu ia mengatakan kepada pelakunya: “Jazakallah khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh ia telah benar-benar meninggikan pujian.”



guru ngaji & bahasa arab