Di Dunia, Singgah Sementara
Dalam Sunan At-Tirmidzi dan lainnya, sebuah hadis dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Nabi ﷺ tidur di atas tikar, sedangkan tikar itu membekas di rusuk Beliau. Lalu kami mengatakan kepada beliau, “wahai Rasulullah, kami ingin membuatkan untukmu kasur yang lembut! Rasulullah ﷺ lalu menjawab:
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا. «أخرجه الترمذي (2377)، وابن ماجه (4109)، وأحمد (3709) مطولاً»
Apa urusanku dengan dunia. Aku di dunia ini tidak lain seperti seorang penunggang kendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, lalu pergi meninggalkannya.
Dalam hadits ini Rasulullah memberikan gambaran tentang kehidupan seorang muslim di dunia, seperti musafir yang menempuh perjalanan panjang, ia ingin sampai pada tujuannya dengan aman tanpa halangan, tidak menghabiskan waktunya di perjalanannya dengan santai dan menikmati dunia.
Ini sebuah nasehat dari Nabi ﷺ kepada kita, untuk tidak terlena dengan dunia dan kenikmatannya. Sehingga lupa dengan perjalanan yang sebenarnya. Tidak ada larangan menikmati dunia dengan cara yang halal dan dibenarkan syariat, tapi menjadi aib dan petaka jika dunia lebih utama dari akhirat, sehingga tidak mengenal halal dan haram, tujuan dari setiap aktivitas hanyalah kesenangan dunia yang fana’, yang hanya sementara. Jangan sampai kita seperti orang kafir, yang kenikmatannya hanya sampai di dunia saja, menyia-nyiakan kehidupan akhirat yang kekal.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
﴿إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا﴾ [الإنسان: 27]
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)
Di dalam ayat ini, Allah ta’ala menyebutkan يوما ثقيلا hari yang berat, yaitu hari kiamat yang penuh dengan kedahsyatan dan mengerikan.
Di surat Al-Muddasstir disebutkan,
﴿فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (٨) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (٩) عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ﴾ [المدثر: 8-10]
Apabila ditiup sangkakala, * maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, * bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah
Sungguh hari kiamat adalah hari yang berat, hari guncangan yang besar, bumi diganti dengan bentuk yang lain
﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (١٠٥) فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (١٠٦) لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا (١٠٧)﴾ [طه: 105-107]
Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, ** maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, ** tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi.
Hari kiamat adalah hari pembalasan, كان مقداره خمسين ألف سنة, lamanya 50 ribu tahun. Dalam sebuah hadits,
«مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ، وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ، وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ» «صحيح مسلم» (987)
Siapa yang mempunyai emas dan perak, tetapi dia tidak membayar zakatnya, maka di hari kiamat akan dibuatkan untuknya seterika api yang dinyalakan di dalam neraka, lalu diseterikakan ke perut, dahi dan punggungnya. Setiap seterika itu dingin, maka akan dipanaskan kembali lalu diseterikakan pula padanya setiap hari -sehari setara lima puluh tahun (di dunia) - hingga perkaranya diputuskan. Setelah itu, barulah ia melihat jalannya keluar, adakalanya ke surga dan adakalanya ke neraka
Gabung dalam percakapan