Allah Yang Mencukupkan
{إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا} [المعارج: 19]
“Sesungguhnya manusia diciptakan suka berkeluh kesah.”
Inilah sifat manusia ketika menerima apa pun, baik kebaikan ataupun keburukan, kecil maupun besar. Ia tidak bisa untuk tidak berkeluh kesah, merasa tidak cukup dengan apa yang ia dapatkan dari nikmat Allah ta’ala. Susah untuk ridho dengan rezeki yang Allah bagikan kepadanya.
Manusia susah untuk puas, jika ia diberi satu, ia menginginkan dua. Jika diberi dua, ia menginginkan tiga, dan begitu selanjutnya, sampai tanah akan memenuhi mulutnya ketika dimasukkan dalam kubur.
Sifat qona’ah dan ridho seharusnya itu lebih besar di dalam hati. Allah mengatur dan membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Allah menjamin rezeki semua makhluk-Nya. Tidak satupun binatang di atas bumi ini, kecuali Allah jamin rezekinya.
Seseorang mengeluh dengan gaji sedikit, misalkan ia mendapatkan gaji satu juta rupiah setiap bulannya. Ia mengeluh mana mungkin gaji segitu bisa memenuhi kebutuhan keluarga?! Biaya makan, biaya sekolah, transportasi, kesehatan dan lainnya.
Bagaimanakah sikap terbaik dalam hal ini?
Jumlah gaji seperti memanglah sedikit kalau hanya menghitungnya kalkulator atau excel untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang ada. Akan semakin rumit jika ia hanya bergantung pada hitungan itu tanpa bersandar kepada Sang Pemberi rezeki.
Yang terbaik adalah ridho’ dengan hal dan katakan dengan penuh keyakinan, bahwa Allah yang akan mencukupinya! Rezeki Allah sangat luas, pintu-pintunya tidak terbatas, Allah akan memberi rezeki dari yang jalan yang Ia kehendaki.
ما قل وكفى خير مما كثر وألهى (رواه أحمد، ابن حبان)
“Yang sedikit dan cukup lebih baik daripada banyak dan melalaikan”
{أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ} [الزمر: 36]
“Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya”
Gabung dalam percakapan