Mereka Adalah Anak Muda

Anak muda, usia belia antara dua kelemahan, kelemahan masa bayi, dan kelemahan di saat umur tua. Usia, dimana Allah ta’ala memberikan dua pertanyaan, pertanyaan tentang umur secara umum, dan pertanyaan tentang masa secara khusus.

Sejarah Islam mencatat, bahwa orang-orang yang mengisi shaf-shaf terdepan, yang terdepan dalam menerima dan menegakkan dakwah Islam adalah sebagian besarnya adalah para pemuda. Lihatlah bagaimana Al-Qur’an menggambarkan tentang anak muda.

Nabi Ibrahim alaihissalam, lihatlah apa yang menjadi keluh kesah di dalam hatinya. Dimana Allah sebutkan kisahnya dalam surat Al-An’am [75-79]. Bukan kegelisahan sederhana, tapi kegundahan tentang suatu yang besar. Sesuatu yang mengubah ia dan kaumnya. Kegundahan, tentang proses beliau mencari Tuhan, kegundahan tentang tauhid. Ketika melihat bintang, ia berkata mungkin adalah Tuhan. Tak kala bintang terbenam, ia berkata,

قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

“Saya tidak suka kepada yang tenggelam”

Begitu pula, ketika ia melihat bulan dan matahari. Yang pada akhirnya, beliau berkata,

{إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ} [الأنعام: 79] 

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Saat Nabi Ibrahim alaihissalam menghancurkan patung-patung itu. Bukankah Al-Qur’an yang mengungkapkan masyarakat musyrik, yaitu masyarakatnya Nabiyullah Ibrahim, mereka berkata,

{قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ} [الأنبياء: 60]

“Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”

Nabiyullah Ibrahim, usianya adalah usia fataa, saat ia telah memiliki yang iman sangat kokoh, tak hanya iman yang ada pada dirinya, ia tidak rela masyarakatnya  berbuat kemusyrikan, dan dia hancurkan patung-patung itu dengan penuh kesadaran, bahwa yang ia lakukan beresiko sangat tinggi. Dan terbukti, Nabi Ibrahim dibakar. Apa usia tua? Tetapi usia fata, usia pemuda.

Ini bukan satu-satunya dalam Al-Qur’an, bahkan melimpah banyak sekali. Bukalah kembali kisah Nabi Yusuf alaihissalam, saat digoda oleh wanita penguasa, yang punya harta, bahkan yang paling cantik di zamannya. Saat digoda, berapa umur Nabi Yusuf alaihissalam? Al-Qur’an kembali mengungkap dengan kata ‘fata’, 

{وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ} [يوسف: 30]

"Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya),”

Dan ketika wanita-wanita di kota itu menggunjing istri penguasa mereka. Mereka berkata, bahwa ia menggoda ‘fataha’, menggoda anak muda yang melayaninya. Saat usia muda ini, Yusuf berani berkata,

{ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ} [يوسف: 23]

“Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah”

Yusuf yang muda, yang nyaris kita tidak bisa lakukan hari ini, -semoga Allah lindungi kita dan generasi muda kita-. Yusuf yang masih muda, syahwat yang masih menggelegak sebagaimana anak muda, di hadapannya wanita, dalam keadaan sepi, pintu-pintu semua ditutup dengan aman (وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ), bahkan ia adalah wanita penguasa, ia cantik, ia punya segalanya. Tapi Yusuf dituntun oleh Allah, dan berani berkata, (مَعَاذَ اللَّهِ) aku berlindung kepada Allah

{إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ} [يوسف: 23]

“sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”

Itulah juga yang terjadi pada kisah Ashabul Ukhdud, dalam surat Al-Buruuj. Satu kaum mati, dengan cara dilemparkan satu-persatu ke dalam parit api, karena mereka beriman kepada Allah

{وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} [البروج: 8]

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”

Begitu juga saat ini, apa yang membuat mereka benci kepada kita? Bukan karena suku kita, bukan karena harta, bukan bisnis kita, bukan ras kita. Tapi karena beriman kepada Allah ta’ala.

Bagaimana masyarakat besar itu tiba-tiba bisa masuk Islam? Karya satu anak muda, bacalah kisahnya dalam kitab tafsir ! satu anak muda yang berhasil mampu menghantar hidayah ke dalam hati masyarakat itu. Kemudian mereka beriman. Lihatlah bagaimana seorang pemuda mampu menghantarkan hidayah kepada masyarakatnya?!

Di dalam surat Al-Kahfi yang sering kita baca di hari atau malam Jum’at. Di dalamnya ada kisah ashbul kahfi, 

{إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى} [الكهف: 13]

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Mereka adalah anak-anak muda yang berlari dengan akidah mereka, menyelamatkan agama mereka, mereka lari, masuk ke dalam gua, ketika tidak solusi yang lainnya. Berapakah usia mereka? (فِتْيَةٌ) mereka semua anak muda, (آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى) mereka beriman kepada Rabb mereka, dan kami tambahi mereka petunjuk.

Nabiyullah Musa alaihissalam, masih dalam surat Al-Kahfi, ketika diperintahkan untuk belajar kepada orang sholeh. Musa tidak sendiri, ia temani oleh seorang anak muda, yang Allah berfirman, 

{وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ} [الكهف: 60]

Ketika Nabi Musa berkata kepada anak yang membersamainya. Ulama tafsir menyebutkan, bahwa pemuda ini adalah Yusya’ bin Nun, anak muda yang membersamai Nabi, membersamai orang sholeh, membersamai orang berilmu. Kelak pun Yusya’ bin Nun menjadi pemimpin, bahkan disebutkan ia menjadi Nabi setelah Musa dan Harun. 

Tidak hanya ini saja, begitu banyak data tentang ini. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya memberikan kesimpulan ketika menafsirkan (إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى)

وَلِهَذَا كَانَ أَكْثَرُ الْمُسْتَجِيبِينَ لله تعالى وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌شَبَابًا، وَأَمَّا الْمَشَايِخُ مِنْ قُرَيْشٍ، فَعَامَّتُهُمْ بَقُوا عَلَى دِينِهِمْ وَلَمْ يُسْلِمْ مِنْهُمْ إِلَّا الْقَلِيلُ - «تفسير ابن كثير ط العلمية» (٥/ ١٢٧)

Oleh karena ini, yang paling banyak menerima dan menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya adalah anak-anak muda. Adapun para tetua Quraisy, sebagian besarnya tetap dalam agama mereka, tidak ada yang beriman kecuali sedikit.

Maka berbahagialah wahai para anak muda, jangan berputus asa, tetaplah bersemangat untuk berkarya dan berbuat. Ibnu Syihab Az-Zuhri pernah berkata kepada anak-anak muda di zamannya.

لَا تَحْقِرُوا أَنْفُسَكُمْ لِحَدَاثَةِ أَسْنَانِكُمْ , فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا نَزَلَ بِهِ الْأَمْرُ الْمُعْضِلُ دَعَا الْفِتْيَانَ فَاسْتَشَارَهُمْ , يَبْتَغِي حِدَّةَ عُقُولِهِمْ - السنن الكبرى للبيهقي (٢٠٣٣١)، حلية الأولياء وطبقات الأصفياء.

Janganlah kalian merendahkan diri kalian, karena umur kalian yang masih kecil. Sesungguhnya Umar bin Al-Khottob, ketika mendapat perkara yang sulit, ia bertanya kepada anak muda, karena ketajaman akal mereka.


guru ngaji & bahasa arab