Merindukan Zaman Seperti Mereka

Suatu hari Umar bin al-Kkattab ra, duduk bersama dengan sahabat-sahabatnya. Ia berkata kepada mereka, “تَمَنَّوْا” apa keinginan dan hayalan kalian?

Di antar mereka ada yang berkata, “أَتَمَنَّى أنْ يَكُونَ مِلْءَ هَذَا الْبَيْتِ دَرَاهِمَ فَأُنْفِقُهَا فِي سَبِيلِ اللهِ” Aku berharap rumah ini penuh dengan uang dirham, kemudian aku infakkan di jalan Allah. Yang lainnya berkata, Aku berharap rumah ini penuh dengan emas, kemudian aku infakkan di jalan Allah.

Namun Umar ra, memiliki angan-angan yang berbeda, ia berkata:

لَكِنِّي أَتَمَنَّى أنْ يَكُونَ مِلْءَ هَذَا الْبَيْتِ رِجَالًا مِثْلَ أبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَحُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، فَأَسْتَعْمِلُهُمْ فِي طَاعَةِ اللهِ (سير أعلام النبلاء: 1/14)

Aku berharap seandainya, rumah ini dipenuhi oleh orang-orang besar seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Muadz bin Jabal, Huzaifah bin al-Yaman, lalu peruntukkan mereka untuk ketaatan kepada Allah ta’ala. 

Umar bin Khattab berangan-angan hadirnya kembali orang-orang besar yang mengelilingi beliau.

Imam Abu Hanifah berkata,

‌سِيَرُ ‌الرِّجَالِ ‌أَحَبُّ إِليَّ مِنْ كَثْيرٍ مِنَ الْفِقْهِ (أزهار الرياض في أخبار القاض عياض، ودروس للشيخ علي القرني)

Kita merindukan merindukan masa, dimana dalam masa itu terdapat orang-orang besar yang berjuang, melakukan perubahan besar, memperjuangkan Islam. Generasi yang diharapkan hadir kembali, menggerakkan umat menuju kemajuan.

Sejarah tokoh-tokoh besar lebih aku suka dari banyak pembahasan fiqih.

Sejarah panjang kita dipenuhi oleh orang-orang besar yang penuh dengan inspirasi, untuk kita berkaca dari mereka, memperbaiki diri dan umat ini, di tengah kelemahan dan kemunduran yang kita rasakan.

Mereka contoh dalam berbagai hal dalam keteguhan, perjuangan, ilmu, dakwah, kedermawanan dan lainnya.

Tentang keteguhan iman, maka lihatlah bagaimana imannya Bilal bin Robah ketika disiksa oleh tuannya. 

Bagaimana kegigihan dalam menuntut ilmu, belajarlah dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah ﷺ menggelarinya sebagai turjumanul qur’an.

Inspirasi bagi orang kaya, ada sahabat muliaUtsman bin Affan, Abdurrahman bin Aufa. Lihatlah kekayaan mereka dan kedermawanan mereka dalam berinfak di jalan Allah ta’al. 

Tentang kepemimpinan, para pemimpin, pejabat negara, bisa berkaca dari Umar bin al-Khottob. Dalam keberanian dan strategi perang, ada sahabat yang dijuluki saifullah, Khalid bin al-Walid. 

Dan banyak lagi, mereka layaknya bintang-bintang, yang akan memberikan petunjuk arah, bagi mereka mau mengambil ibrah dari mereka.

Apakah ada di zaman kita, seperti mereka? Apakah seperti mereka tidak akan pernah ada lagi?

Disinilah kita bertanya kepada diri kita, apakah zaman kejayaan itu sudah terkubur? Apakah orang-orang seperti mereka tidak akan muncul?

Tapi, kita harus optimis, karena kita bersama Allah ta’ala. Kita harus husnuz zhon, bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ tidak akan dibiarkan seperti ini dalam kelemahan dan kemunduran.

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ ‌مَنْ ‌يُجَدِّدُ ‌لَهَا دِينَهَا «سنن أبي داود: 4291»

Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini setiap masa seratus tahun, orang yang akan memperbaharui agamanya.

Di tengah pesatnya media dan serbuan kepada generasi saat ini dengan hadirnya artis-artis lokal maupun luar negeri dengan gaya dan kehidupan mereka, tokoh-tokoh fiktif dalam film dan game yang dalam genggaman kita. Itu menjadi tontonan, permainan bahkan berubah menjadi tuntunan. 

Maka kita sebagai orang tua, pendidik, haruslah mengambil peran, kecil maupun besar, dalam membendung kerasnya perang pemikiran, serangan-serangan terhadap moral dan agama kita, yang kita tidak rasakan.

Di antara peran itu adalah mendidik anak kita, generasi mudah kita, dengan memperkenalkan sejarah tokoh-tokoh besar yang kita miliki seperti Umar bin al-Khattab, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah, Khalid bin al-Walid, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Abbas, dan banyak sekali dari berbagai generasi.

Kita membutuhkan generasi yang penuh amal dan aktivitas, perjuangan untuk memajukan Islam, bukan generasi yang hanya memikirkan hanya urusan perut, permainan, 

Zaman para pembesar kita tidak akan kembali, kecuali menyiapkan generasi yang menghafal al-Qur’an, mengetahui peta menuju Baitil Maqdis untuk membebaskannya dari cengkraman zionis. 

Imam Malik ra. berkata, 

لا يُصْلِحُ آخِرَ ‌هَذِهِ ‌الأُمَّةِ ‌إِلا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا  «مسند الموطأ للجوهري، ص: 584»

Dan tidak ada yang dapat memperbaiki generasi akhir umat ini, kecuali apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.

Kejayaan yang mereka raih, tidak akan bisa kita temukan lagi, kecuali kita mengikuti apa yang pernah lakukan saat mereka mencapai puncak kejayaan.

Ini adalah kegelisahan yang semestinya harus ada di setiap dada kaum muslimin. Bahwa hidup ini tidak tenang-tenang saja, tapi harus dipenuhi oleh langkah perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi.



guru ngaji & bahasa arab