Perjalanan Dalam Ketaatan
Perjalanan atau safar untuk berhaji adalah salah satu safar dalam ketaatan kepada Allah, karena ini safar dalam melaksanakan rukun Islam.
Perjalanan bisa berbentuk ketaatan dan bisa juga dalam kemaksiatan. Di antara keduanya ada perjalanan mubah saja, tetapi bisa berubah menjadi maksiat atau taat, bergantung niat pada masing-masing orang.
Di antar perjalanan dalam ketaatan, yaitu perjalanan dalam berjihad di jalan Allah ta’la, perjalanan untuk berhaji, perjalanan untuk menuntut ilmu, perjalanan untuk mengunjungi tiga masjid mulia, perjalanan untuk mengunjungi kerabat dan menyambung silaturrahim dengan mereka, mengunjungi seorang muslim karena Allah ta’ala.
« غَدْوَةٌ أَوْ رَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا .» «صحيح مسلم» (1882)
“Perjalanan pagi atau sore di jalan Allah ta’ala lebih dari dunia dan apa ada di dalamnya.”
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ «سنن أبي داود» (3641)
Barang siapa yang menempuh sebuah perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikan ia jalan menuju surga.
Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim, bahwa ada seorang laki-laki laki-laki mengunjungi saudaranya di suatu desa lain, maka Allah memerintahkan seorang malaikat duduk mengawasinya di jalannya, ketika dia tiba di tempat itu, maka malaikat tersebut bertanya, (أين تريد؟) 'Ke mana kamu akan pergi?' Dia menjawab, 'Saya bermaksud mengunjungi saudaraku di desa ini.' Malaikat itu bertanya, (هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟) 'Apakah kamu memiliki suatu nikmat (kebutuhan) yang kamu urusi padanya?' Dia menjawab, (لَا، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ) 'Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah Subhanahu waTa`ala.' Malaikat pun berkata,
فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ
'Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya'."
Seorang yang keluar dari rumahnya, melakukan perjalanan, mencari rizki Allah ta’ala untuk sesuap nasi bagi dirinya, anak, istri, dan keluarganya. Jika itu bertujuan untuk menjaga kehormatan mereka dari meminta-minta, supaya ia bisa memakan makanan yang halal. Maka ini tergolong dalam ketaatan dan berada di jalan Allah ta’ala.
Disebutkan dalam Syua’bul Iman sebuah hadits, bahwa seseorang lewati, kemudian para sahabat kagum dengan fisiknya, kemudian mereka berkata, "Kalau sekiranya orang ini berada di jalan Allah?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِبْيَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيَعُفَّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Jika ia keluar bekerja untuk kedua orang tuanya, maka ia berada di jalan Allah, jika ia keluar bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya, untuk menjaga kesucian diri, maka dia di jalan Allah. (شعب الإيمان: 8337)
Akan tetapi (وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ) (شعب الإيمان: 9892)
Jika ia keluar bekerja untuk riya dan berbangga-bangga (di hadapan manusia), maka dia berada di jalan setan."
Kalau perjalanan haji membutuhkan (الزاد والراحلة) bekal dan kendaraan. Begitu juga dengan semua perjalanan yang kita lakukan di muka bumi ini.
Dan semua sudah mengetahui bahwa kita memiliki perjalanan ukhrawi, yaitu menuju perjumpaan dengan Allah ta’ala. Perjalanan ini sangat lah panjang. Dan tentu membutuhkan kesiapan, perjuangan dan bekal.
من عرف بعد السفر استعد
Barang siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan, maka ia akan bersiap-siap
Sebaik-baik persiapan adalah takwa kepada Allah (وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى)
Gabung dalam percakapan