Amalan Mengalir
Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki nama ar-rahiim (Yang Maha Penyayang), yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Rahmat Allah ta’ala untuk orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya.
{وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا} [الأحزاب: 43]
“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, rahmat Allah dalam ayat tersebut, فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, di dunia dan di akhirat.
أَمَّا فِي الدُّنْيَا: فَإِنَّهُ هَدَاهُمْ إِلَى الْحَقِّ الَّذِي جَهِلَهُ غَيْرُهُمْ، وبَصّرهم الطَّرِيقَ الَّذِي ضَلَّ عَنْهُ وَحَادَ عَنْهُ مِنْ سِوَاهُمْ
Di dunia Allah ta’ala menunjukkan kebenaran, selain mereka tidak mau mengambil kebenaran itu.. Menerangi mereka jalan, yang banyak orang tersesat tidak mau menempuh jalan tersebut.
وَأَمَّا رَحْمَتُهُ بِهِمْ فِي الْآخِرَةِ: فَآمَنَهُمْ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَأَمَرَ مَلَائِكَتَهُ يَتَلَقَّوْنَهُمْ بِالْبِشَارَةِ بِالْفَوْزِ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ، وَمَا ذَاكَ إِلَّا لِمَحَبَّتِهِ لَهُمْ وَرَأْفَتِهِ بِهِمْ.
Adapun rahmat Allah di akhirat kepada orang-orang mukmin adalah menjadikan mereka aman, tenang dari ketakutan hari kiamat, memerintahkan malaikat-Nya untuk memberikan kabar gembira dan kemenangan dengan surga dan selamat dari neraka, itu karena cinta dan kasih-sayang-Nya kepada mereka.
Di antara kemurahan dan kerahiman Allah ta’ala pada hamba-hamba-Nya adalah memberikan reward, memberikan ganjaran, pahala yang lestari walaupun pengamalnya sudah mati, walau orang tersebut sudah tidak ada di atas dunia ini.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu, disebutkan dalam Musnad Al-Bazzar, juga di Hilayatul Aulia, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan 7 (tujuh) amalan, jika dikerjakan maka pahalanya akan terus mengalir, walau ia sudah berada di alam kubur setelah kematiannya.
«سَبْعٌ يَجْرِي أَجْرُهَا لِلْعَبْدِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ مَنْ عَلِمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلًا أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ»
“Tujuh (amalan) yang mengalir pahalanya bagi seorang hamba padahal ia sudah meninggal dunia, (yaitu) :
1) mengajarkan ilmu,
2) mengalirkan sungai,
3) menggali sumur,
4) menanam kurma,
5) membangun masjid,
6) mewariskan mushaf al Qur’an, dan
7) meninggalkan anak yang senantiasa memohonkan ampunan untuknya setelah dia meninggal dunia.”
Dalam hadits dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
«إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ» - (ابن ماجه: 245، شعب الإيمان: 3174، ابن خزيمة: 2490)
“Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah:
1) Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan,
2) Anak shalih yang ia tinggalkan,
3) Mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan,
4) Masjid yang ia bangun,
5) Rumah yang ia bangun bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan)
6) Sungai yang ia alirkan, dan
7) Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup.
Semuanya itu akan menyertainya setelah meninggalnya.”
Dalam hadits dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
"إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ" صحيح مسلم (1631)
“Apabila anak Adam meninggal, maka terputus darinya semua amalan kecuali tiga perkara: sodaqoh jariyah, (Sebagian besar amalan yang disebutkan dalam pertama dan kedua masuk dalam sodaqoh jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.”
Ketiga hadits di atas adalah hadits-hadits targib, sabda-sabda Nabi yang mengandung ajakan dan motivasi agar kita tergerak untuk segera berinisiatif melakukan amalan-amalan yang pahalanya tiada henti walau sudah pergi ke alam barzah.
Gabung dalam percakapan