Bulan Sabit Ramadhan
Dalam pekatnya malam, hilang semua arah dan warna. Setitik cahaya sebagai penunjuk arah adalah harapan. Hiruk pikuk dan gemerlapnya dunia membutakan hati insan, menghanyutkan manusia ke arah lembah kenistaan, menggelapkan semua arah sehingga menjadi hitam dalam kezaliman, menyatukan tanpa beda antara kebenaran dan kebatilan, antara yang halal dan haram. Tanpa cahaya, manusia akan tersungkur dalam kegelapan, dalam kezaliman bermuara kehinaan. Cahaya dari Sang Pencipta sebagai petunjuk dan bimbingan di tengah gelapnya dunia. Petunjuk Ilahi dari Sang Pencipta sebagai arah menuju keselamatan dan ridho-Nya. Petunjuk untuk meniti jalan yang lurus menuju rahmat-Nya. "(dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." QS. An-Nur: 40.
Awal Ramadhan, mari kita mulai dengan menyalakan lampu kecil di hati kita. Kita mulai dengan niat dan azam yang kuat untuk menggapai cahaya Allah di bulan ini, karena kegelapan adalah kegelapan di hari kiamat az-zhulmu zhulumaat yaumal qiyaamah. Menggapai segala cahaya, dalam hati, dalam ucapan, pandangan, pendengaran, dan dalam segala perbuatan. Rasulullah mengajarkan kita berdoa, "Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untukku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku." HR. Bukhari Muslim.
Gabung dalam percakapan