Jiwa-jiwa Bersemangat Tinggi
Mukmin harus kuat dan semangat. Kuat dalam memikul amanah, kuat dalam melawan syaithan, kuat dalam menghadapi musuh-musuh Allah ta'ala. Semangat yang tinggi dalam ibadah harus tetap tertancap kuat dalam jiwa, semangat berjuang menyebarkan dan menegakkan panji Islam, tak takut celaan dan selalu tabah di setiap rintang. Semangat Islam tak boleh pudar oleh silaunya dunia dan gencarnya godaan.
Coba kita buka kembali lembaran sejarah Islam, kita akan temukan jiwa-jiwa penuh semangat yang tak pernah letih dan mengeluh.
Abu Bakar, yang begitu besar kecintaan dan semangat beliau kepada Islam, berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah tidur lalu bermimpi, dan aku tidak pernah terlena." Artinya, Abu Bakar tidak punya waktu untuk tidur lama sampai bermimpi, karena beliau hidup untuk agamanya.
Umar bin Khattab mengatakan, "Kapan aku bisa tidur? Aku tidak punya waktu untuk tidur. Jika aku tidur di malam hari, berarti aku telah menyia-nyiakan hak Tuhanku, dan jika aku tidur di siang hari, berarti aku menyia-nyiakan hak rakyatku. Terus kapan aku bisa tidur?
Setelah Uqbah bin Nafi' menyelesaikan misi penaklukannya, ia berdiri di pinggir sadudera Atlantik seraya berkata, "Wahai laut, demi Allah! Sekiranya di belakangmu sana masih ada daratan, aku pasti akan menyeberangimu hingga Islam sampai ke daratan itu dan penduduknya mengabdikan diri hanya kepada Allah, Tuhan semesta alam."
Said bin Al-Musayyib, seorang tabiin, melakukan puasa terus menerus, jika matahari telah terbenam dia datang ke masjid dengan membawa minuman dari rumahnya dan meminumnya. Abdul Mu'in bercerita yang bersumber dari ayahnya, "selama 50 tahun Said bin Al-Musayyib melakukan shalat shubuh dengan wudhu shalat Isya." Said bin Al-Musayyib berkata, "Aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama 50 tahun. Aku juga tidak pernah melihat punggung para jama'ah, karena aku selalu berada di barisan terdepan selama 50 tahun itu."
Imam As-Syafi'i membagi malamnya menjadi tiga bagian, yaitu; sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga terakhir untuk tidur. Imam As-Syafi' lahir Gaza, melakukan perjalan ilmiyah, menimba dan menyebarkan ilmu, dari Makkah, Madinah, Yaman, Bagdad, dan berakhir di Mesir.
Seorang yang berjiwa besar adalah orang yang terus berjuang tanpa henti, tak layu dalam perjalan usia. Seorang penyair berkata, "Jika jiwa-jiwa itu besar, tentulah untuk mencapai derajat tersebut dengan kelitahan raga." Sebuah ungkapan "Semangat laki-laki mampu merobohkan gunung"
Gabung dalam percakapan